Rukun Islam

islamPenjelasan Ringkas Tentang Rukun Islam

Sungguh kebahagian dan sebuah kenikmatan yang terbesar adalah ketika Allah menjadikan kita sebagai seorang yang beragama islam. Yang tidak ada kebahagian didunia dan diakhirat kecuali dengan memeluk agama islam, agama yang satu-satunya diridhai disisi Allah hanyalah islam yang tidak diterima selain dari agama islam.

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الإِسْلامُ

“Sesungguhnya agama yang diridhai disisi Allah hanyalah islam “ (Ali Imran : 19)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا

 “Pada hari ini telah Ku sempurnkan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmatku, dan telah Ku ridhai islam sebagai agama bagimu “ (Al Maidah : 3)

 

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan barangsiapa mencari agama selain islam, dia tidak akan diterima dan diakhirat dia termasuk orang yang merugi ” (Ali Imran : 85)

 

Lalu Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkanNya, tunduk kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan kepadaNya dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya. (Kitab Al Ushul Ats-Tsalah, Syaikh Muhammad At Tamimi)

Islam dibagun diatas lima perkara

Hal ini sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

”Islam itu dibangun diatas lima perkara, syahadat (persaksian) Laa Ilaha Illallah Muhammadarrasulullah (tidak ada Ilah/sesembahan yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah), mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji dan puasa Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Didahulukan haji atas shaum (puasa) adalah mutafaqun alaihi (Bukhari dan Muslim), adapun didahulukan shaum (puasa) atas haji salah satu dari riwayat dari Imam Muslim.

Rukun Islam yang Pertama: Syahadat Laa Ilaha Illallah Muhadarrasulullah

Makna Laa Ilaha Illallah

Makna Laa ilaha illallah adalah

لا معبد بحق الا الله

Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah.

Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena Sesungguhnya Allah, Dialah (ilah/sesembahan) yang haq dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, Itulah yang batil, dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (Al-Haj : 62)

 

Syarat-Syarat Laa Ilaha Illallah

Syarat Laa Ilaha Illallah yang harus dipenuhi bagi orang yang mengucapkannya

  1. Ilmu, mengilmui/memahami makna yang benar dari kalimat Laa Ilaha Illallah
  2. Yakin, menyakini makna atau kandungan kalimat Laa Ilaha Illallah
  3. Ikhlas, Ikhlas mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah.
  4. Shidiq (jujur), sejalannya hati dengan kalimat Laa Ilaha Illallah yang di ucapkan, yaitu hatinya membenarkannya.
  5. Mahabbah (cinta), Mencintai kalimat ini berserta konnsekuensinya.
  6. Inqiyad (tunduk), Tunduk terhadap hak-hak kalimat Laa Ilaha Illallah
  7. Qabul (menerima), Menerima kalimat ini berserta konsekuensinya. (silahkan lihat Kitab al-Wajibat dan al-Qulul Mufiid fi Adilatit Tauhid)

Makna Muhammadarrasulullah

Makna Muhammadarrasulullaah yaitu:

 إعتراف باطنا وظاهرا أن محمدا عبد الله ورسوله إلى الناس كافة

“Pengakuan secara bathin dan secara dhahir bahwasanya Muhammad seorang hamba Allah dan utusan-Nya yang diutus untuk manusia seluruhnya.” (Aqidah Tauhid : 40)

 

Tentang makna ini Allah subhaanahu wata’aala berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ

“Dan Kami tidaklah mengutusmu melainkan untuk seluruh manusia.” (As-Saba’: 28)

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

 “Dan katakanlah (Muhammad) : ‘Hai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah kepada kamu semua.’” (Al-A’raaf : 158)

Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً

Aku diutus untuk seluruh manusia.” (HR. Muslim)

 

Konsekuensi Syahadat Muhammadarrasulullah, yaitu:

 

طاعته فيما أمر , وتصديقه فيما أخبر , وترك ما نهى عنه وزجر , وألا يعبد الله إلا بما بلغناه رسول الله صلى الله عليه وسلم , وتقديم قوله على قول كل أحد من الناس كاإنا من كان.

  1. Yaitu mentaati perintah beliau
  2. Membenarkan khabar (berita) beliau
  3. Meninggalkan perkara-perkara yang beliau larang dan beliau cegah
  4. Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syari’at (tuntunan) yang telah beliau sampaikan kepada kita
  5. Mendahulukan ucapan beliau daripada ucapan siapapun.” (al-Qulul Mufiid fi Adilatit Tauhid)

 

Rukun Islam yang Kedua: Mendirikan Shalat

Pengertian Shalat, secara bahasa:  الدعاء (doa)

Dan secara syar’i:

عبادة ذات أقوال وأفعال مخصوصةمفتتحة بالتكبير ومختتمة بالتسليم مع النية

“Ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu yang dibuka dengan takbir dan ditutup dengan salam disertai niat.”  (Al-Fiqh al-Muyasar, hlm 59)

Dalil di wajibkannya shalat

Allah subhaanahu wata’aala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.“ (Al-Bayyinah : 5)

 

Dalam  sebuah hadits

أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَائِرَ الرَّأْسِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا

Bahwasannya seorang arab badui datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam yang telah beruban rambutnya seraya berkata:  “Ya Rasulullah beritahukan kepadaku shalat yang Allah fardhukan (wajibkan -ed) kepadaku.” Beliau shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Shalat yang lima (waktu) kecuali kalau engkau mau yang tathawwu’ (shalat Sunnah).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa yang mengingkari kewajiban shalat maka sungguh dia telah kafir menurut kesepakatan para ulama dan barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja sungguh dia telah melakukan perbuatan dosa besar bahkan sebagian ulama mengatakan dia telah melakukan perbuatan kekafiran walaupun dia menyakini kewajibannya dan ini pendapat yang benar, berdasarkan dalil-dalil yang ada, dan diantaranya. Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَلا تَكُونُوا مِنَ المُشْرِكِينَ

 “Serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.”   (ar-Ruum : 31)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ

Sesungguhnya pembatas antara seseorang dan kesyirikkan dan kekufuran adalah meninngalkan shalat.” (HR. Muslim)

 Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjajian antara kami dengan mereka adalah shalat, barangsiapa yang meninggalkan shalat sungguh dia telah kafir.” (HR. An-Nasai, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Berkata asy-Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah”Kami mendapati didalam Al-kitab (Al-Qur’an) dan as-Sunnah dalil keduanya menunjukkan atas kafirnya orang yang meninggalkan shalat, dengan kekufuran yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam.” (Hukmu Taarikis Shalah, Syaikh Muhammad Bin Shaleh Al Utsaimin: 6)

Syarat-syarat Shalat

  1. Islam
  2. Berakal
  3. Tamyiz (dapat membedakan yang baik dan yang buruk)
  4. Menghilangkan hadats
  5. Menghilangkan najis
  6. Menutup aurat
  7. Masuknya waktu
  8. Menghadap kiblat
  9. Niat. (Durusul Muhimmah li Amatil Ummah, Syaikh Ibnu Baaz)

 

Rukun Islam yang Ketiga: Menunaikan Zakat

Pengertian Zakat, secara bahasa:

النماء و الزيادة

“Berkembang dan tambahan”

Secara syar’i:

عبادة عن حق يجب في المال الذي بلغ نصابا معينا بشورط مخصوصةلطائفة مخصوصة

“Sebuah ibadah dari hak yang diwajibkan atas harta yang telah mencapai nishab (ukuran) tertentu dengan syarat-syarat tertentu dikeluarkan kepada sekelompok orang tertentu.” (al-Fiqh al-Muyasar, hlm137)

Dalil di wajibkannya zakat

Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

“dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (al-Baqarah:110)

Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (at-Taubah:103)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ

“Aku diuntus untuk memerangi manusia sampai dia bersyahadat Laa Ilaha Illallah (tidak ada ilah/sesembahan yang haq kecuali Allah) dan Muhammadarrasulullah (Muhammad utusan Allah), mendirikan shalat, menunaikan zakat apabila mereka melakukan hal itu terjaga dariku darah mereka, harta mereka kecuali hak islam dan perhitungan disisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa yang mengingkari kewajiban zakat sungguh dia telah kafir. Dan barangsiapa yang mempunyai kewajiban zakat namun tidak mengeluarkannya maka dia telah berbuat dosa besar. Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (at-Taubah:34-35)

 

Zakat dalam syariat kita tebagi menjadi dua:

  1. Zakatul Am-Waal (zakat harta) yaitu yang terkait dengan harta.
  2. Zakatul Abdaan (zakat badan) yaitu yang terkait dengan badan yaitu zakat fitrah.

Zakat am-Waal (harta) diwajibakan dengan syarat-syarat tertentu

  1. Islam, tidak wajib bagi orang kafir
  2. Orang merdeka, tidak wajib bagi seorang budak
  3. Mencapai nishabnya (kadar harta) yang wajib dizakati
  4. Sempurna haulnya (telah sempurna satu tahun)

Harta yang wajib untuk keluarkan zakatnya

  1. Bahiimatul An’aam (hewan ternak) yaitu unta, sapi dan kambing.
  2. An-Naqdan (dua mata uang), yaitu emas dan perak. Dan yang mempunyai kedudukan seperti itu, seperti uang kertas yang digunakan pada hari/masa ini.
  3. Harta perdagangan, yaitu setiap apa yang dipersiapkan untuk jual beli dengan tujuan mencari untung.
  4. Yang keluar dari bumi, terdiri dari khintah, syair, zabiib (kismis, anggur yang dikeringkan) dan tamr (kurma)

 

 Zakatul Abdaan yaitu zakat fitrah, diwajibkan dengan dua syarat

  1. Islam
  2. Adanya kelebihan dari makanan pokok dari kebutuhannya untuk hari ied dan malamnya (al-Fiqih al-Muyasar, hlm 143)

 

Kepada siapa zakat dikeluarkan

  • Zakatul amwal (harta)

Untuk zakat harta dikeluarkan kepada delapan golongan yang Allah sebutkan dalam surat at-taubah

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ

فَرِيضَةً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (at-Taubah:60)

  • Zakatul Fitr

Sebagian ulama berpendapat dikeluarkan kepada orang miskin. Dan insya Allah ini pendapat yang terpilih berdasarkan hadits Ibnu Abbas

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً

لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah mewajibkan zakat fithri, pensuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia, yang jelek dan (memberi) makanan bagi orang miskin.” (HR. Abu Dawud no 1609 dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani di shahih sunnan Abi Dawud no 1420).

 

Rukun Islam yang Keempat: Puasa dibulan ramadhan

Pengertian puasa, secara bahasa:

الإمساك عن السيئ

“Menahan dari sesuatu” (al-Fiqh al-Muyasar, hlm 151).

Secara syar’i:

التعبد لله سبحانه وتعالى بالإمساك عن الأكل, والشرب, وسائر المفطرات, من طلوع الفجر إلى غروب الشمس

“Beribadah kepada Allah dengan menahan dari makan, minum dan seluruh pembatal puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.” (Syarhul Mumti’:6/298).).

Dalil di wajibkannya puasa di bulan ramadhan

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang – orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas  orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa “ (Al Baqarah : 183).

Dalil dari hadits,

أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَائِرَ الرَّأْسِ …. فَقَالَ أَخْبِرْنِي مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصِّيَامِ فَقَالَ شَهْرَ رَمَضَانَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا

Bahwasannya seorang arab badui datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam  yang telah beruban rambutnya seraya berkata:  “….. Ya Rasulullah beritahukan kepadaku puasa yang Allah fardhukan (wajibkan -ed) kepadaku.” Beliau shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab:“Puasa Ramadhan kecuali kalau engkau mau yang tathawwu’ (puasa Sunnah).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa mengingkari kewajiban puasa di bulan ramadhan sungguh dia telah kafir, adapun jika meyakini kewajiban puasa dibulan ramadhan tetapi dia tidak mengerjakannya maka hal itu merupakan dosa yang sangat besar. Sebagaimana dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Abu Umamah Al Bahili Radiyallahu ‘Anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ فَأَتَيَا بِى جَبَلاً وَعْرًا فَقَالاَ لِىَ : اصْعَدْ فَقُلْتُ : إِنِّى لاَ أُطِيقُهُ فَقَالاَ : إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِى سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا أَنَا بَأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ فَقُلْتُ : مَا هَذِهِ الأَصْوَاتُ قَالُوا : هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ

Ketika aku tidur datang kepadaku dua orang laki-laki, mereka berdua mengambil kedua lenganku, mereka membawaku kegunung dengan jalan yang kasar (tidak rata), mereeka berkata kepadaku mendakilah, maka aku berkata: saya tidak mampu mendakinya, mereka berkata kami akan memudahkanmu, maka aku mendakinya ketika sampai dipuncak gunung aku mendengar suara yang sangat kencang dan aku bertanya: suara apa ini? mereka berkata ini teriakan penduduk neraka, kemudian mereka membawaku ketempat yang lain, kemudian saya melihat sebuah kaum yang tergantung dengan kaki di atas, serta mulut mereka terbelah dan mengalir darinya darah, aku berkata siapa mereka, mereka menjawab mereka adalah orang – orang yang berbuka sebelum waktu berbuka ” (HR. an-Nasa’i no 3273-, Ibnu Hibban no 7491 dan Hakim no 1568 di shahihkan oleh syaikh Muqbil al-Jami’ Shahih:2/421-422)

Syarat diwajibkan seseorang berpuasa pada bulan ramadhan

  1. Islam : Tidak sah orang kafir berpuasa sampai masuk islam.
  2. Berakal : Tidak sah orang gila sampai berakal
  3. Baligh, anak kecil tidak wajib puasa.
  4. Mampu berpuasa, orang yang sakit yang tidak mampu berpuasa tidak wajib berpuasa, begitupun bagi orang yang sudah lanjut usia yang sudah tidak mampu berpuasa.
  5. Mukim, tidak wajib berpuasa bagi musafir.
  6. Tidak lagi haid dan nifas : Tidak sah orang yang sedang haid dan nifas sampai bersih dari haid dan nifas. (Fiqih Muyyasar dengan diringkas, hlm 153)

Perkara-Perkara yang Membatalkan Puasa

  1. Makan dan minum dengan sengaja, jika lupa tidak membatalkan puasa.
  2. Keluar mani dengan sebab, mencium, sentuhan atau onani adapun jika dikarenakan mimpi tidaklah membatalkan puasa.
  3. Jima’ (melakukan hubungan suami istri) disiang hari di bulan ramadhan.
  4. Haid dan Nifas
  5. Muntah dengan sengaja. Mayoritas ulama berpendapat bahwa muntah dengan sengaja membatalkan puasa.
  6. Murtad

 

Rukun Islam yang Kelima : Pergi Haji Kebaitullah Bagi yang Mampu

Pengertian haji, secara bahasa:

القصد

“Bermaksud”

Secra syar’i:

القصد إلى البيت الحرام، لأعمال مخصوصة، في زمن مخصوص

“Bermaksud pergi kebaitullah untuk melaksankan amalan-amalan tertentu di waktu tertentu.” (Taisirul ‘Alaam, hlm 418)

Dalil di wajibkannya haji

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali Imran : 97)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا

“Wahai manusia, sungguh Allah telah memfardhukan (mewajibkan) atas kalian haji, maka berhajilah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa yang mengingkari kewajiban haji kebaitullah sungguh dia telah kafir, dan barangsiapa yang mampu berhaji namun tidak pergi haji maka dia telah melakukan dosa besar. Haji diwajibkan seumur hidup sekali, lebih dari itu hukumnya sunnah.

Diwajibkan seseorang menunaikan ibadah haji dengan beberapa syarat

  1. Islam tidak wajib bagi orang kafir dan tidak sah.
  2. Berakal, tidak wajib bagi orang gila dan tidak sah pada saat gilanya.
  3. Baligh, tidak wajib bagi anak kecil
  4. Merdeka, tidak wajib bagi seorang budak.
  5. Memiliki kemampuan. Orang yang tidak mampu tidak wajib haji. (al-fiqh al-muyasar, hlm 174. Dengan diringkas)

Haji mempunyai rukun yang harus dikerjakan,

  1. Ihram, yaitu niat masuk dalam rangkaian ibadah haji. Dikarenakan haji ibadah semata tidak sah tanpa niat menurut ijma kaum muslimin dan niat tempatnya dihati.
  2. Wuquf di Arafah. Ini adalah rukun haji menurut ijma (kesepakatan) ulama
  3. Thawaf Ifadhah. Ini adalah rukun menurut ijma (kesepakatan) ulama
  4. Sa’i antara Shafa dan Mar’wah. (al-fiqh al-muyasar, hlm 174. dan Ash-Shahih minal Atsar Fi Khutbatil Mimbar, hlm 179)

Perkara-perkara wajib yang harus dikerjakan pada saat haji

  1. Ihram dari miqat (tempat tetentu yang telah ditetapkan dalam syar’iat)
  2. Wukuf di arafah sampai malam bagi orang yang datang pada siang hari
  3. Mabit (bermalam) di Muzdalifah pada malam an-nahr (idul qurban)
  4. Mabit di Mina pada hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijah).
  5. Melempar jumrah secera  berurutan
  6. Menggundul rambut atau mencukur seluruh rambut kepala. Adapun wanita cukup memotong sepanjang ruas jari dari rambut kepalanya.
  7. Tawaf wada’ (silahkan lihat al-fiqh al-Muyasar, hlm 187 dan Ash-Shahih minal Atsar Fi Khutbatil Mimbar, hlm 179)

Demikianlah penjelasan secara ringkas tentang rukun islam semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawwab.

Ditulis oleh Abdullah bin Mudakir al-Jakarty

One comment on “Rukun Islam

  1. Ping-balik: Penjelasan Ringkas Tentang Rukun Islam | Salafybandung.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s